Rabu, 07 April 2010

BERSAMA KITA BISA

Kebersamaan dan Gotong –royong itu harus kita lestarikan

Di zaman sekarang ini nilai – nilai luhur kehidupan di masyarakat yaitu musyawarah untuk mufakat, gotong royong, dan rasa kebersamaan itu makin lama makin memudar apalagi untuk kehidupan masyarakat di daerah perkotaan, padahal banyak sekali permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekitarnya baik itu masalah social, masalah ekonomi maupun masalah lingkungan, ditambah lagi beragamnya suku, mereka asik dengan urusan masing-masing.

Kelurahan Harapan Jaya merupakan salah satu kelurahan yang terletak di kecamatan Sukarame, mata pencaharian masyarakatnya bermacam-macam ada yang bertani, tukang, PNS, Wiraswasta, buruh, dagang dan lain-lain. Masyarakatnyapun meragam suku, ada Jawa, Sunda, Batak, Lampung, Palembang, Madura dan lain-lain.
Pada awalnya masyarakat Kelurahan Harapan Jaya kurang peduli dengan pembangunan yang dikerjakan oleh pemerintah daerah, sehingga pembangunan-pembangunan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah daerah, mereka kurang untuk menjaga dan merawat karena rasa memilikinya masih kurang.

Semenjak program PNPM perkotaan masuk mereka sedikit-demi sedikit mulai sadar akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungannya, mereka mulai belajar menggali permasalahan-permasalahan yang ada baik itu permasalahan social, ekonomi, maupun lingkungan dan menggali potensi-potensi yang dimiliki. Dan semua itu dirangkum dalam PJM Pronangkis. Mereka juga belajar bermusyawarah untuk memilih wakil-wakil mereka yang mereka anggap layak sesuai dengan criteria seorang pemimpin, yang akan duduk dalam suatu lembaga masyarakat yang mereka beri nama : “ LKM JAYA BERSAMA”
Setelah mendapatkan bantuan BLM, merekapun melelui musyawarah menentukan skala prioritas kegiatan-kegiatan apa saja yang akan dalaksanakan dengan menggunakan dana BLM.
Masyarakat kelurahan Harapan Jaya dalam melaksanakan kegiatan terutama kegiatan lingkungan yang didanai oleh BLM PNPM, mereka melaksanakannya dengan cara semi gotong royong, bahkan ada kegiatan yang dilakukan dengan gotong royong penuh jadi mereka tidak menuntut upah, karena mereka sadar bahwa kegiatan yang mereka bangun itu adalah untuk kepentingan mereka juga. Dan akhirnya segala permasalahan yang ada di kelurahan Harapan Jaya sedikit demi sedikit dapat teratasi, itu semua berkat kebersamaan dan gotong-royong yang merupakan bagian dari nilai-nilai luhur kehidupan di masyarakat.

Mudah – mudahan semangat kebersamaan dan gotong – royong yang ada di masyarakat kelurahan Harapan Jaya dapat terjaga dan lestari. Amin…….

KUE KERING PNPM PENGGANTI SETORAN SUAMI


Aktifitas wanita paruh baya yang saya temui di teras rumahnya yang sederhana di Pekon Sidoharjo, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, hari Selasa sore tanggal 9 Februari 2010, setidaknya membuktikan bahwa keberadaan PNPM Mandiri Perkotaan yang masuk ke kota seribu bambu ini, manfaatnya cukup dirasakan oleh para kaum miskin di kota ini.

Betapa tidak, dari kebiasaan lama para ibu rumah tangga yang biasanya hanya duduk-duduk sambil menghabiskan waktu menunggu suaminya pulang mencari nafkah sebagai kuli bangunan, tukang ojek atau tukang becak, saat ini ibu-ibu rumah tangga khususnya yang tinggal di lingkungan I telah memiliki kesibukan baru yang menghasilkan uang. Cukup untuk membantu menopang ekonomi keluarga agar tidak goyah, dan yang pasti tidak masuk perangkap rentenir.

Dengan canda riang dan terkadang “genit” para ibu rumah tangga ini, terus memainkan tangan terampilnya membuat kue kering yang nantinya akan dijual langsung, atau dititipkan ke warung-warung bahkan toko-toko yang ada di Kabupaten Pringsewu.Terampilnya ibu-ibu ini membuat kue kering, ternyata menurut pengakuan Warsiti (42) tidak lepas dari peran PNPM Mandiri Perkotaan, yang pada saat perguliran dana BLM tahap I diadakan pelatihan pembuatan kue kering, melalui kegiatan sosial.

“Dulunya kami ini hanya duduk-duduk saja mas, sambil momong anak di rumah. Nunggu bapaknya pulang cari duit. Mbecak itu loh mas,” ujar Warsiti. Namun setelah ada pelatihan membuat kue kering, dari PNPM Perkotaan, ibu-ibu di wilayah sini bisa cari duit tambahan juga mas, ya begini buat-buat kue kering lalu dititipkan ke warung-warung atau toko, lumayan mas,” tambah ibu dua anak ini yang akrab disapa Mak Siti.

Lebih lanjut dia menambahkan, awalnya ada fasikator (mungkin maksudnya fasilitator) yang mengajak rapat ibu-ibu katanya mau ada pelatihan gratis. Terserah apa yang dikehendaki, usulannya apa, yang bermanfaat. Kami bingung, lah wong kita ini orang bodo-bodo kok disuruh buat usulan, ditulis lewat proposal, diajukan, apa ya bisa keluar duitnya,” ujarnya polos.

“Namun setelah proses yang cukup lama, akhirnya kegiatan itupun jadi juga. Pesertanya banyak, ibu-ibu rumah tangga semua, rame banget mas, mungkin karena gratis itu mas” tambahnya. Singkat cerita, setelah mendapatkan ilmu membuat kue, kelompok ibu-ibu rumah tangga inipun bingung, karena masalah klasik, tak ada modal untuk mulai usaha.

Namun berkat kemauan yang cukup besar untuk merubah nasib, ibu-ibu inipun akhirnya nekad menemui Kepala Pekon Sidoharjo, minta sumbang sarannya. Akhirnya disepakati, untuk modal awal ibu-ibu inipun iuran untuk membuka usaha kue kering. “Tak disangka mas, hasilnya lumayan, akhirnya kami ketagihan dan menekuni usaha ini. Alhamdulilah sampai sekarang jalan,” ujar Mka Siti.

Selain bisa membantu ekonomi keluarganya, usaha kue kering ini juga dapat merubah citra wanita atau ibu-ibu di lingkungan I Pekon Sidoharjo ini, pasalnya mereka telah berdaya, minimal tidak lagi menunggu “setoran” suaminya untuk belanja keperluan dapur, karena untuk hal itu mereka telah mampu memenuhinya sendiri. (Darsono)

Usaha Lancar, Cicilan Terbayar, Buah Kedisiplinan & Menabung........

Mana bisa punya usaha, punya rumah dan barang-barang yang oke kalau tidak berutang? Meski ada penghasilan, tapi tidaklah cukup kalau harus mendapatkan ketiganya secara bersamaan dan secara cash. Kalau harus menabung dulu sebelum membeli, mau sampai kapan bisa kebeli? Jadi, utang sepertinya menjadi solusi yang cepat dan mudah dilakukan. Toh kita masih bisa mencicilnya. Mungkin benar, tapi ingat lo, bila tak disikapi dengan benar serta disiplin, salah-salah kita malah terlilit utang yang tak berujung.

Utang berkepanjangan terkadang timbul di luar dugaan atau control kita. Kesulitan tersebut sering kali berpotensi merusak kestabilan keuangan keluarga. Bahkan tak jarang pada sebagian orang, utang terus mengejar sampai mati. Agar tak terlilit utang sedemikian parah, ada beberapa tip bermanfaat yang patut kita cermati.

Seperti yang dilakukan warga Kelurahan Campang Raya Kecamatan Tanjung Karang Timur Bandar Lampung. Bagi mereka anggota KSM peminjam dana ekonomi bergulir, disiplin membayar dan menabung adalah kunci sukses mengelola utang menjadi sumber modal tanpa membawa mereka kearah utang berkepanjangan.

Mereka sebagai anggota KSM peminjam sadar betul bahwa disiplin membayar angsuran tepat pada waktunya membawa banyak manfaat. Tidak hanya sebagai pembelajaran bagi diri sendiri, namun juga membantu kelancaran pengelolaan dana bergulir yang pada akhirnya dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh warga lainnya.

Tidak hanya disiplin membayar tepat waktu, mereka juga membiasakan menabung sejak awal. Mereka memiliki tabungan harian yang disetorkan melalui pengurus di pasar temple Cikatomas Campang Raya. Blangko tabungan ditempel di dinding pasar oleh pengurus, sehingga anggota KSM yang menabung bisa tahu berapa jumlah tabungan yang sudah disetor. Besarnya tabungan tidak dipatok, sesuai dengan kemampuan masing-masing anggota. Tabungan ini pulalah yang akhirnya membantu mereka di akhir dan awal bulan, ketika jatuh tempo dan mereka tidak memiliki cukup uang, pengurus akan mengambil tabuangan sebesar cicilan untuk membayar angsuran mereka.

Ini merupakan salah satu kunci sukses, mengapa tingkat pengembalian (RR) pinjaman di Kelurahan Campang Raya selalu bertahan 100% dari awal hingga tulisan ini dibaca oleh kita semua, di samping kinerja UPK dan LKM yang baik.

Rasanya tidak ada lagi yang membantah, bahwa menabung itu penting adanya. Menabung di Bank merupakan yang paling popular dan dikenal luas masyarakat. Namun jika melihat kenyataan di atas, menabung dapat dilakukan dimana saja.

Memang menanamkan kebiasaan baik itu tidak mudah. Harus dilakukan sejak dini serta dibutuhkan upaya terus menerus dan pengalaman. Mengalami sendiri memberikan kesan yang mendalam dan tidak mudah dilupakan. Terkadang untuk menabung di Bank warga memiliki keterbatasan-keterbatasan antara lain karena kondisi masyarakat cukup jauh dari jangkauan Bank atau masayarakat sendiri masih tidak familiar dengan dunia Bank. Dari itu dituntut kejelian dari pengurus UPK dan LKM untuk mengkoordinir tabungan anggota KSM demi terwujudnya kebiasaan yang baik dan tentu saja tercapai RR 100%.

Nah, tunggu apalagi?