Kelurahan Gotong Royong adalah salah satu kelurahan yang berada ditengah kota propinsi Lampung, yang di dalamnya terdapat beberapa sekolah ternama, perkantoran pemerintah dan perkantoran Polisi Kota Besar (Poltabes) serta komplek perumahan polisinya. secara kasat mata atau selintas dipandang, untuk kegiatan infrastruktur nampaknya tidak ada lagi jalan yang rusak atau memang belum disentuh oleh pemerintah kota Bandar Lampung. Tetapi jika ditelusuri kedalam-dalamnya dengan mengunjungi RT-RT dikelurahan Gotong Royong, masih ditemukan jalan tanah yang belum disentuh oleh pemerintah kota Bandar Lampung, dan jalan-jalan lain, drainase atau saluran air yang harus direhab kembali setelah beberapa waktu tahun lalu dibangun, yang kini terdapat kerusakan-kerusakan.
Salah satu bangunan lama yang sudah mengalami kerusakan adalah bangunan paving yang dibangun sekitar tahun 2000. Melalui PNPM-MPk yang ada diKelurahan Gotong Royong dengan LKMnya yang bernama LKM Goro Sejahtera, warga RT.04 LK. II mengajukan rehab pembangunan jalan paving dengan membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yaitu KSM Sutoyo Rapih. Setelah melalui rembug warga beberapa kali, masyarakat atau warga RT.04 LK. II meminta penggantian kegiatan, bahwa mereka menginginkan kegiatan paving diganti dengan kegiatan pengaspalan jalan. Ini merupakan hal baru dalam PNPM-MPk, dan belum pernah kegiatan pengaspalan jalan sejak PNPM-MPk masuk ke Propinsi Lampung, dan biasanya pekerjaan atau pengaspalan jalan dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum atau Pemerintah Daerah Kota Bandar Lampung. Kami sebagai fasilitator TIM 11 yang mendampingi Kelurahan Gotong Royong yang pada waktu itu sebagai Senior Fasilitator adalah Ismiyati, meminta kepada ketua KSM Sutoyo Rapih untuk segera mengumpulkan dana swadaya di depan. Dengan semangat yang tinggi dan kemauan yang keras, ketua dan anggota KSM Sutoyo Rapih keliling dari rumah ke rumah warga agar sekiranya warga mau memberi bantuan untuk pembangunan jalan (pengaspalan jalan) sesuai dengan kesepakatan bersama. Perjuangan atau Usaha Ketua KSM Sutoyo Rapih, sempat mendapat cacian/Isu (Kabar tak jelas), bahwa Bapak Umaidhy selaku ketua KSM sutoyo Rapih mendapat tuduhan bahwa dia mendapatkan untung atau mengabil keuntungan dari dana swadaya yang dikumpulkan. Dari hasil rembug/bersama setiap rumah dikenakan bantuan swadaya yang telah ditentukan, semangat yang tinggi pun sempat turun/melemah dengan adanya kabar miring tersebut. Ketua KSM pun memutuskan kembali pada kegiatan semula yaitu kegiatan paving blok. Pada saat kegiatan akan berjalan, warga kembali tidak setuju. Akhirnya ketua KSM mengembalikan lagi kepada warga untuk memutuskannya, jika ingin pengaspalan jalan, warga harus memberi bantuan swadaya karena dana yang ada tidak tercover/tercukupi untuk pengaspalan jalan sepanjang 275 M2, Wargapun bersedia berswadaya dan Pundi-pundi rupiahpun terkumpul dari warga. Ditengah kota ternyata masih ada warga yang mau menyisihkan sedikit uangnya demi pembangunan jalan. Swadaya tidak hanya berupa uang terkumpul tetapi ada swadaya dalam bentuk lain yaitu berupa makanan, minuman dan tenaga-tenaga.
Disisi lain KSM Sutoyo Rapih memperjuangkan agar kegiatan pengaspalan jalan terealisasi, TIM 11 juga memperjuangkan keinginan/harapan mereka dengan pihak kota (asisten kota infrastruktur korkot 1), kegiatan pengaspalan jalan ini sempat ditolak oleh Askot infrastruktur karena dana yang ada tidak mencukupi untuk pengaspalan jalan, dana tersebut hanya cukup untuk pengajuan awal (paving blok) dan pengaspalan dilakukan oleh pemerintah daerah atau dinas pekerjaan umum dan PNPM-MPk sejak pertama kali masuk ke propinsi lampung yang waktu itu masih bernama P2KP-3. Dana untuk kegiatan pengaspalan membutuhkan dana yang cukup besar, dengan dana BLM sebesar Rp. 13.350.000,- tidaklah mencukupi untuk Volume 275 M2, akan tetapi jika penggantian tersebut atas kemauan masyarakat maka diperbolehkan oleh askot infrastruktur dengan catatan swadaya masyarakat dimuka. Karena kemauan masyarakat yang kuat untuk kegiatan tersebut, swadaya yang terkumpul sebesar Rp. 1.650.000,-. Dengan dana BLM dan swadaya tersebut diatas, kegiatan/pekerjaan tersebut berjalan. Swadaya lainnya dalam bentuk makanan, minuman, dan sumbangan tenaga. Volume pekerjaan semula yang harus dikerjakan 275 M2, dikerjakan lebih dari volume tersebut. Volume pekerjaan menjadi 330 M2. Setelah pekerjaan selesai, masyarakat/warga merasa gembira baik masyarakat/warga sebagai penerima manfaat langsung, maupun masyarakat lain yang bukan penerima manfaat tidak langsung. Kegiatan/pekerjaan ini mendapat acungan jempol dari Bapak Walikota Bandar Lampung pada saat kunjungan kerja GEMMA TAPIS – POKMAS dikelurahan Gotong Royong, dengan dana tersebut pengaspalan dapat terealisasi. Ada satu hal yang sangat disayangkan, pekerjaan tersebut diklaim bahwa itu pekerjaan POKMAS, yang lalu biarlah berlalu, masyarakatpun tahu kalau itu adalah pekerjaan KSM Sutoyo Rapih – PNPM-MPk dengan adanya papan proyek yang terpampang/terpasang dari sebelum pekerjaan hingga pekerjaan selesai masih tetap ada. Kini jalan yang rusak menjadi bagus kembali.
sensi utama Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan adalah pembangunan komunitas. Komunitas merupakan subjek dan sekaligus objek utama dari program ini. Dalam kaitannya dengan penanggulangan masalah kemiskinan, masyarakatlah melalui Relawan melakukan refleksi terhadap kondisi kemiskinan di lingkungannya karena masyarakatlah yang secara riil merasakan kondisi kemiskinan tersebut sehingga dari proses refleksi yang partisipatif tersebut menghasilkan berbagai rumusan akar permasalahan, gejala-gejala, maupun dimensi-dimensi kemiskinan yang benar-benar factual dan spasial.Lebih lanjut, dalam PNPM dikenal dengan siklus Pemetaan Swadaya, esensinya pemetaan tersebut merupakan proses penggalian (pengidentifikasian) berbagai masalah baik menyangkut aspek ekonomi, social maupun permukiman/infrastruktur. Proses ini merupakan tahapan vital dalam kaitannya dengan perumusan rencana tindak lanjut untuk megatasi berbagai masalah tersebut.
Berikut ini adalah salah satu contoh urgensi dari proses Pemetaaan Swadaya (pengindentifikasian) masalah yang dilakukan secara otonom dan partisipatif oelh masyarakat melalui Relawan merupakan langkah awal menuju keberhasilan program/kegitan yang bermanfaat.
KETEPATAN DAN KEAKURASIAN PENGIDENTIFIKASI MASALAH ADALAH DASAR PERUMUSAN RENCANA TINDAK LANJUT YANG BAIK
Membanggakan dan selayaknya diberikan apresiasi lebih menyimak perjalanan pelaksanaan kegiatan pemanfaatan BLM I PNPM Mandiri Perkotaan berupa Pembangunan Jembatan Plat Deckerdi Pekon Fajar Agung. Dilihat dari kondisinya, jembatan ini (kondisi lama) tidak layak pakai “sulit dilalui” padahal berlokasi pada status “jalan desa”. Dua hal mendasar tersebutlah yang melatarbelakangi usulan pembangunan jembatan (baru) tersebut, dimana hal ini sudah juga sudah terindenfitikasi dalam siklus pemetaan swadaya pada tahap-tahap/siklus yang telah dilakukan sebelumnya.
REVITALISASI PERAN MASYARAKAT DALAM BENTUK KSM KUNCI KESUKSESAN PROGRAM
Adalah KSM SURYA MANDIRI yang bertindak sebagai organisasi pelaksana kegiatan pembangunan jembatan tersebut. KSM Surya Mandiri terbentuk pada tanggal 15 April 2009 dengan Ketua Bapak Supono dengan anggota 5 (lima) orang dan beralamat di RT 03 Dusun I Pekon Fajar Agung. Berawal dari kepedulian terhadap kondisi dan permasalahan lingkungan/infrastruktur di Pekon Fajar Agung, Supono dan kelima anggota lainnya berkomitmen dan bersepakat untuk membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat di Pekon Fajar Agung, khususnya di wilayah Dusun I Pekon Fajar Agung.Bapak Supono dan kelima anggotanya nobatene adalah Relawan Pekon Fajar Agung yang telah mengikuti Pelatihan Relawan.
Dibutuhkannya jiwa-jiwa yang peduli, tanpa pamrih, jujur, dan ber tanggung jawab sebagai ‘ruh’ yang dibutuhkan program PNPM ternyata bukan sekedar ‘dongeng’ yang ada di alam idealita tetapi mampu dan nyata dapat kita jumpai pada alam realita, terutama dari Bapak Supono dan kelima para anggotanya.
Tak dapat dipungkiri, Pelatihan Relawan yang telah dilakukan pada masa-masa awal fase/siklus PNPM memberikan dampat tersendiri bagipara pesertanya.Berbagai topik/bahasan materi yang pernah didiskusikan pada pelatihan dahulu ternyata mampu dielaborasi dan intenalisasi oleh Bapak Supono dan kelima anggotanya. Bukan sekedar berefleksi secara kritis, sadar dan rasional terkait dengan berbagai permasalahan kemiskinan di lingkungannya, kelima orang tersebut juga mampu memproyeksikan rencana tindaklanjut/penyelesaian masalah, komitment dan action yang dibuktikannya dengan mengorganisir diri ke dalam kelompok, mengorganisir permasalahan di Dusun I dan ditindaklanjuti dengan mengajukan Proposal Kegiatan Pembangunan Jembatan Plat Decker di RT 3 Dusun I dengan dimensi fisik 4 x 6,35 m dan usulan pembiayaan BLM sebesar Rp. 9.701.000,-
MANAJERIAL ORGANISASI YANG BAIK SYARAT KESUKSESAN PELAKSANAAN KEGIATAN
Sebagai bagian dari Tim yang melakukan verifikasi, justifikasi dan rekomendasi pengelolaan kegiatan, Tim 13 Faskel yang mendampingi Pekon Fajar Agung pada awalnya sempat sangsi dengan usulan tersebut berkaitan dengan besarnya dana yang diusulkan, mengingat dalam penilaian spesifikasi keteknikan dengan pertimbangan luas/dimensi, dan fungsi jembatan (jalur utama desa) idealnya pembiayaan untuk pembangunan jembatan tersebut minimal 15.000.000,- akan tetapi dengan adanya itikad, komitment dan perencanaan organisasi pelaksana kegiatan (KSM Surya Mandiri) khususnya dalam hal penggalangan sumber pembiayaan lain di luar BLM berupa Swadaya yang rasional akhirnya Tim 13 Faskel memberikan justifikasi dan rekomendasi bahwa pembangunan jembatan tersebut dapat dilaksanakan dengan mengacu pada ketentuan-ketentuan teknis yang ada serta komitment adanya swadaya yang dibutuhkan.
Bebekal dari Usulan Kegiatan (Proposal) tersebut KSM Surya Mandiri yang dikomando oleh Bapak Suryono secara intensif melakukan Rapat Intern KSM untuk membahas dan mendisktribusikan fungsi dan peran kerja (job description) anggota kelompoknya.Bahasan utama dalam KSM ini diantaranya;
·Penyusunan Schedule (Jadwal Waktu) Pelaksanaan Kegiatan mulai dari; pembongkaran jembatan lama; pelebaran dan pendalaman kanal/sungai; pemasangan batu belah/pondasi; perangkaian anyaman besi cor, pengadukan dan pengecoran; pemasangan leneng; penimbungan hamparan tanah; dan pengecatan jembatan (finishing);
·Pembentukkan Tim Kerja Teknis Pembangunan; dalam hal ini ditunjuk antara lain masing-masing; Koordinator Pengadaan/Logistik/Material; Koordinator/Mandor TenagaKerja pelaksanaan kegiatan harian dengan penyusunan system penjadwalan gotong-royong warga per RT/hari;
·Pembentukan Tim Penggalang Dana; dalam hal ini dibentuk Tim Penggalang Dana yang dikoordinir oleh Bendahara dan Sekretaris untuk menggalang dana yang berasal dari Swadaya Murni Masyarakat dan Bantuan dari pihak-pihak lain/swasta/donator;
·Penyusunan Pola/Mekanisme Monitoring, Evaluasi dan Pemeliharaan dengan berkoordinasi dengan LKM melalui Unit Pengelola Lingkungan (UPL)
Dengan dibentuknya sub tim tersebut, alhasil pelaksanaan pembanguna jembatan dapat berjalan dengan baik, sesuai rencana dan bahkan secara kualitas dan besaran pembiayaan mampu melebihi dengan apa yang sudah diusulkan dalam Proposal Kegiatan.
BUAH DARI KETEPATAN PENGIDENTIFIKASIAN MASALAH, KEPEDULIAN DAN KOMITMENT, SERTA PERENCANAAN YANG BAIK
Jembatan Plat Decker RT 03 Dusun I Pekon Fajar Agung mulai dibangun pada tanggal 19 Mei 2009 dan mampu diselesaikan pada tanggal 5 Juni 2009.Secara ‘fisik’ dimensi jembatan berukuran 4 x 6,35 m dimana dalam realisasinya tidak banyak mengalami perubahan, namun demikian secara ‘kualitas’ kondisi jembatan tersebut jauh melebihi standar spesifikasi maupun besaran pembiayaan yang dialokasikan dari BLM.
Bersasarkan hasil sertifikasi yang dilakukan oleh Satuan Kerja (Satker) PPK-PNPM Kabupaten Pringsewu dan Tim 13 Faskel Kabupaten Pringsewu, adanya peningkatan kualitas jembatan tersebut diantaranya adalah:
1.Adanya penambahan abutment (pasangan batu belah) yang pada dasarnya tidak teranggarkan pembiayaannya dalam stuktur pembiayaan BLM dengan kuota penambahan (swadaya) sebesar 2,4 M3Batu Belah;
2.Pembangunan Leneng yang pada dasarnya tidak teranggarkan dan terspesifikasi secara teknis dalam struktur pembiayaan BLM dengan kuota penambahan (swadaya) sebesar 3 M3
3.Adanya Penimbunan Tanah di sekitar jembatan yang pada dasarnya tidak teranggarkan pembiayaannya dalam stuktur pembiayaan BLM dengan kuota penambahan (swadaya) sebesar 36 M3;
4.Teranggarkannya Penggunaan Mesin Pengaduk (Molen) Semen untuk pengecoran dimana dalam usulan kegiatan hanya dianggarkan penggunaan Tangan/Manual untuk pengadukan dengan nilai Rp. 500.000,-;
5.Tercapainya kualitas jembatan dengan nilai taksiran pembiayaan sebesar Rp. 21.000.000,-
Alhasil, bukan saja permasalahan keterbatasan mobilitas dan transportasi yang terselesaikan akan tetapi jika dicermati secara lebih holistic, pembangunan jembatan tersebut juga mampu memberikan kemanfaatan pada aspek-aspek kehidupan masyarakat Pekon Fajar Agung khususnya RT 03 Dusun I diantaranya:
·Dalam Perspektif Ekonomi; Pembangunan jembatan yang berada pada jalan desa tersebut akan mempermudah proses mobilisasi barang maupun jasa antar Pekon/Desa karena fungsinya yang juga menghubungkan dengan Pekon/Desa lainnya (Fajar Esuk)
·Dalam Perspektif Sosial; Pembangunan jembatan ini juga semakin memperlancar proses tranformasi informasi, khususnya antar warga Dusun/Lingkungan di Pekon Fajar Agung
·Dalam Perspektif Permukiman, Sarana dan Prasarana; Pembangunan jembatan merupakan solusi efektif menanggulangi banjir, khususnya di lingkungan jembatan tersebut berada dengan semakin lancarnya arus air yang melalui lorongjembatan.
·Dalam Perspektif Sosiologis; Pembangunan jembatan dengan nilai realisasi swadaya yang sangat tinggi ini dapat menjadi stimulant sekaligus pemacu bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan lainnya khususnya dalam hal pengelolaan pembiayaan
·Dalam Perspektif Manajemen dan Perencanaan; Pembangunan jembatan dengan kapasitas besar dengan schedule/jadwal yang sangat padat akan tetapi dapat direalisasikan juga menunjukkan bahwa manajemen organisasi pelaksana kegiatan benar-benar berfungsi dan dapat menjadi refleksi bagi organisasi pelaksana kegiatan-kegiatan lainnya.
TIADA MASALAH YANG TAK TERSELESAIKAN
Merefleksi dari proses pembangunan jembatan tentunya terdapat beberapa hal yang dapat kita ambil hikmahnya.Sekedar mengingatkan kembali bahwa kemiskinan merupakan masalah yang sangat komplek dan dimensional, bicara mengenai upaya penanggulangannya pun layaknya mengurai ‘benang kusut’ yang hampir tidak mungkin untuk dipecahkan apalagi dengan cara-cara yang konvensional. Namun demikian, dari perjalanan cerita tersebut, kemiskinan dalam konteks permukinan/infrastruktur setidaknya sedikit mampu terurai.
Pemetaan Swadaya yang dikenal dalam Siklus PNPM sejatinya adalah proses pengidentifikasian berbagai permasalahan yang benar-benar akurat, representative dan akomodatif karena masyarakatlah melalui Relawan yang melakukan proses tersebut. Bermodal dari daftar masalah tersebut, perencanaan tindak lanjut yang tepat dan komitment yang tulus yang termanifestasi dalam Kelompok Swadaya Masyarakat merupakan bentuk yang rasional dan efektif berfungsi sebagai motor pembasmi kemiskinan. Terakhir, tentunya menjadi dambaan bersama bila keteladanan dari proses pembangunan jembatan tersebut dijakikan sebagai bahan refleksi bagi pelaksanaan pembangunan/kegiatan-kegiatan lainnya.
“Tak harus mengeluarkan biaya mahal untuk dapat menjadi terampil”. Barangkali itu lah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan dinamika pembelajaran masyarakat mengenal dan mengenyam peng-gunaan teknologi sederhana komputerisasi. Terbukti dengan adanya kesempatan warga miskin di Kelu rahan Pringsewu Selatan untuk mengikuti Pelatihan Komputer dapat memberikan keman-faatan berupa kemam puan praktis penggunaan computer yang sangat berguna, terutama untuk menambah kua-lifikasi di dunia pekerjaan.Tak berlebihan kiranya, jika disebutkan kualifikasi pekerjaan mengingat secara geologis dan demografis, Kelurahan Pringsewu terletak di jantung ibukota Kabupaten Pringsewu sebagai Daerah Otonom Baru (DOB) yang sedang giat-giatnya membangun tata perkonomiannya, begitu halnya semakin berkembang pesatnya pusat-pusat perbelanjaan, perkantoran, dan aneka usaha dan perdagangan lainnya yang semakin menekan angka permintaan tenaga kera terampil.Alasan itu pula lah yang melatarbelakangi diadakannya pelatihan computer khususnya bagi warga miskin di Kelurahan Pringsewu Selatan itu.Alasan lain yang melatarbelakangi diadakannya pelatihan computer ini adalah hasil Focus Group Discussion (FGD) Refleksi Kemiskinan (RK) yang telah dilakukan pada saat tahapan awalSiklus Program PNPM, dimana diantara beberapa rumusan penyebab kemiskinan dikelurahan ini antara lain adalah kurangnya penguasaan ilmu dan teknologi oleh SDM usia produktif sebagai penyebab kemiskinan.
Lebih lanjut, dalam Pemetaan Swadaya (PS) juga ditemukan fakta bahwa banyak kelompok usia produktif dari rumah tangga miskin yang kesulitan untuk memperoleh akses ketrampilan dari berbagai lembaga ketrampilan kerja yang terjangkau dalam segi biaya, Maka sebuah pelatihan komputer yang diharapkan tepat sasaran dalam arti untuk meningkatkan kemampuan warga keluarahan Pringsewu Selatan khususnya yang termasuk miskin dan pengangguran usia produktif diadakan.
KENALI MASALAH, KEBUTUHAN, POTENSI DAN FORMULASIKAN PENYELESAIANNYA
Adalah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Cerdas Terampil namanya, yang bertindak sebagai mediator warga yang ingin meningkatkan ketrampilan warga terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan biaya. KSM Cerdas Terampil yang diketuai oleh Bambang TrimoJo. yang sekaligus bertindak sebagai instruktur dalam pelatihan computer tersebut.
Program pelatihan computer yang ditawarkan meliputi dua bidang materi keterampilan, yaitu: keterampilan pengoperasian Microsoft Word (pengolah kata) dan Microsoft Exel (pengolah angka). Pelatihan ini diselenggarakan selama 7 (tujuh) hari dengan system kelas terbagai menjadi kelas pagi dan kelas sore karena membludaknya jumlah peserta yang ingin mengikuti pelatihan ini, Sedangkan kuota peserta yang diusulkan dalam pengajuan dana BLM I PNPM-MP sebesarRp. 4.500.000,-( Empat juta limaratus ribu Rupiah)dengan jumlah peserta sebanyak 15 orang saja, akan tetapi pada kenyataanya peserta yang hadir lebih dari 20 orang, oleh sebab itu,untuk menjamin kualitas hasil pelatihan serta legitimasi ketrampilan yang diperoleh peserta, maka KSM Cerdas Terampil dalam menyelenggarakan pelatihan ini bermitra/bekerja sama dengan Lembaga Pelatihan Komputer professional setempat, yaitu Star Com yang diberikan amanah untuk bertindak sebagai pengelola pelatihan.
Pola kerjasama tersebut merupakan langkah yang cukup tepat. Secara kualitatif, penguasaan materi pelatihan oleh peserta dapat lebih terkontrol dan terjamin karena dilakukan oleh instruktur professional yang membi-dangi komputerisasi. Di lain hal, dengan adanya kerjasama ini, secara yuridis formal peserta pelatihan juga berhak mendapatkan sertifikat yang dikeluarkan oleh LPK Star Com, dimana sertifikat tersebut dapat dijadikan referensi mengenai kualifikasi ketrampilan kerja (SDM) peserta yang semakin dibutuhkan di pasar/dunia kerja setempat.
Dilihat dari Metode Pelatihan yang dilakukan para pemandu lebih mirip Kursus Private, karena peserta pelatihan dilayani satu demi satu sampai mencapai tingkat kemampuan yang diaharapkan. Kesan peserta sangat optimis dan gembira dalam menanggapi diadakannya pelatihan komputer ini. Menurut Dwi Utomo, SH yang merupakan Lurah Pringsewu Selatan dengan menyatakan pelatihan ini dirasakan sangat bermanfaat. Hal senada juga diungkapan oleh Endah, dimana setelah beberapa kali berangkat pelatihan dirinya sudah bisa mengoperasikan komputer sendiri hingga mahir membuat table, format surat-menyurat dan meng operasikan tools hitung MS Exel. Demikian pula Desy, relawan LKM, yang merasa sangat tertolong dengan adanya pelatihan ini. Kini ia sudah bisa mengetik laporan memakai komputer.
Hal ketiga yang menjadi catatan prestasi dari pelatihan computer ini adalah, terealisasikannya pengadaan inventaris berupa Unit Komputer yang diperoleh dari hasil pelatihan tersebut sebagai konversi atas biaya jasa instruktur pelatihan yang turut disumbangkan untuk pembelian 1 (satu) unit computer dan printer. 1 (satu) Unit Komputer tersebut kemudian dihibahkan oleh KSM Cerdas Terampil kepada LKM Maju Makmur Mandiri untuk pemanfaatan yang lebih optimal.
PENTINGNYA KOMITMEN DARI STAKEHOLDER SETEMPAT
Selama proses pelatihan LKM Maju Makmur Mandiri Pringsewu Selatan terus mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung, hal ini dikarenakan mereka ingin terus memantau perkembangan peserta selama mengikuti pelatihan. Di sisi lain, Kepala Kelurahan Pringsewu Selatan waktu itu yaitu, Bpk, Dwi Utomo, SH juga tak henti-hentinya memberikan motivasi kepada LKM, KSM, maupun para peserta secara khusus untuk memanfaatkan BLM PNPM ini seefektif mungkin dan tepat sasaran. Beliau juga hadir di area pelatihan dalam beberapa kesempatan, baik pada saat acara pembukaan, sesi pelatihan maupun pada saat penutupan pelatihan.Secara psikologis ini merupakan langkah yang baik untuk terus mendorong dan memotivasi pelaksanaan PNPM MP agar lebih berhasil dan bermanfaat, beliau juga membenarkan pentingnya pelatihan ini karena dengan masyarakat yang terampil mereka akan mampu bersaing dalam dunia kerja dan bahkan tidak menutup kemungkinan untuk membuka peluang usaha.
PEKERJAAN RUMAH (PR) KE DEPAN;
PENGINTERGRASIAN HASIL PELATIHAN KE DUNIA KERJA
Sangat ideal sesungguhnya, apabila hasil pelatihan tersebut dapat dikonsolidasikan dan diintegrasikan melalui serangkaian chanelling dan kemitraan ke dunia usaha. Perlu pemikiran dan komitment bersama stakeholders Kelurahan Pringsewu Selatan untuk kemudian menindaklanjuti Output Pelatihan untuk diintegrasikan ke dunia kerja. Beberapa hal yang dapat dilakukan diantaranya adalah; dengan
1.Melakukan On Job Training (OJT) yaitu magang kerja ke beberapa institusi usaha dagang maupun jasa yang ada di daerah setempat;
2.Berafiliasi dengan Asosiasi maupun Lembag Penyalur Tenaga Kerja didaerah setempat
3.Meninisiasi pembentukan atau inkubasi usaha bidang ketrampilan computer dengan memanfaatkan ketrampilan peserta pelatihan yang telah ada.
“Pekerjaan Rumah” tersebut diakui memang langkah-langkah yang sangat sulit untuk dapat diwujudkan, akan tetapi berangkat dari komitment dan kerjasama dari berbagai pihak, bukan tidak mungkin apabila langkah-tersebut mampu diwujudkan. Dengan demikian maka pelatihan computer di Kelurahan Pringsewu Selatan tersebut merupakan serangkaian proses perencanaan yang holistic dan komprehensif. Layaknya sebuah proses produksi, yaitu merencanakan produk yang diinginkan-proses produksi yang dilakukan- dan pemasaran hasil.